59 Jenis Dan Pengertian Majas Beserta Contohnya 5/5 (1)

Diposting pada

jenis jenis majas

Majas atau gaya bahasa merupakan pemakaian kekayaan bahasa, penggunaan varietas tertentu untuk mendapatkan efek tertentu yang membuat sastra lebih hidup, karakteristik keseluruhan dari kelompok penulis bahasa sastra dan cara khas untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan, baik secara lisan atau tertulis.

Majas dipakai dalam penulisan karya sastra, termasuk puisi dan prosa. Umumnya, puisi dapat menggunakan lebih dari prosa figuratif.


Jenis-Jenis Majas


  • Majas perbandingan

  1. Alegori : Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran. Contohnya: Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir di sepanjang tebing, yang kadang-kadang sulit untuk memprediksi kedalaman, yang bersedia menerima semua sampah, dan akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.
  2. Alusio : Gunakan kalimat yang tidak selesai karena tidak diketahui. Contohnya: Selama dua hari ia tidak melihat batang hidungnya.
  3. Simile : Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit dinyatakan dengan preposisi dan penghubung, seperti, misalnya, ibarat, dll. Contohnya: Kau umpama air aku bagai minyaknya, bagaikan Qais dan Laila yang dimabuk cinta berkorban apa saja.
  4. Metafora : Gaya Bahasa yang membandingkan objek dengan objek lain karena memiliki sama atau hampir sama. Contoh: Cuaca mendung karena sang raja siang enggan menampakkan diri.
  5. Antropomorfisme : Metafora yang menggunakan kata-kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal-hal yang bukan manusia.
  6. Sinestesia : Majas dalam bentuk ekspresi yang dituangkan melalui ekspresi indra lainnya. Contohnya : Dengan telaten, Ibu mengendus setiap mangga dalam keranjang dan memilih yang berbau manis. (Bau: indera penciuman, Manis: indera pengecapan).
  7. Antonomasia : Menggunakan alam sebagai nama yang tepat atau nama pribadi lainnya sebagai nama jenis.
  8. Aptronim : Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
  9. Metonimia : Pengungkapan penggunaan nama untuk benda lain menjadi merek, karakteristik atau atribut. Contohnya: Karena sering menghisap jarum, dia terserang penyakit paru-paru.(Rokok merek Djarum)
  10. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang digunakan untuk menunjukkan hubungan dekat. Contohnya : Lama Otok hanya memandangi ikatan bunga biji mata itu, yang membuat Otok kian terkesima.
  11. Litotes : Ekspresi dalam bentuk penurunan kualitas fakta-fakta dengan tujuan merendahkan diri. Contoh: Terimalah kado yang tidak berharga ini sebagai tanda terima kasihku.
  12. Hiperbola : Pengungkapan yang melebih-lebihkan fakta bahwa realitas ini menjadi tidak masuk akal. Contoh: Gedung-gedung perkantoran di kota-kota besar telah mencapai langit.
  13. Personifikasi : Pengungkapan menggunakan perilaku manusia diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia. Contoh: Hembusan angin di tepi pantai membelai rambutku.
  14. Depersonifikasi : Pengungkapan dengan tidak membuat benda mati atau mati.
  15. Pars pro toto : Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek. Contohnya :Sejak kemarin dia tidak kelihatan batang hidungnya.
  16. Totem pro parte : Pengungkapan sementara seluruh objek hanya sebagian. Contohnya: Indonesia bertanding voli melawan Thailand.
  17. Eufimisme : Pengungkapan kata-kata yang dianggap tabu atau terasa kasar dengan kata-kata lain yang dianggap lebih tepat atau halus. Contohnya : Dimana saya bisa menemukan kamar kecilnya?
  18. Disfemisme : Pengungkapan dianggap tabu atau kurang layak seperti itu. Contohnya: Apa kabar, Roni? (Padahal, ia sedang bicara kepada bapaknya sendiri)
  19. Fabel : Menyatakan perilaku hewan sebagai manusia yang bisa berpikir dan berbicara sepatah kata pun. Contohnya : Kucing itu berpikir keras, bagaimana cara terbaik untuk menyantap tikus di depannya.
  20. Parabel : Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi berpikir atau menyamar dalam sebuah cerita.
  21. Perifrasa : Panjang kalimat tidak ungkapan pendek.
  22. Eponim : Membuat nama seseorang sebagai tempat atau lembaga. Contohnya: Kita bermain ke Ina. (Dalam hal ini, ‘Ina’ menjadi perwakilan dari lokasi ‘rumah milik Ina’.)
  23. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk mengungkapkan tujuan.
  24. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama. Contohnya: Masalahnya rumit, susah mencari jalan keluarnya seperti benang kusut.
Baca Juga :  10 Pengertian Sosiologi Menurut Para Ahli Serta Ciri Dan Fungsinya

  • Majas Sindiran

  1. Ironi : Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. Contohnya: Suaramu merdu seperti kaset kusut.
  2. Sarkasme : Sindiran langsung dan kasar. Contohnya : Kamu tidak dapat mengerjakan soal yang semudah ini? Dasar otak udang isi kepalamu!
  3. Sinisme : Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi). Contohnya: Kamu kan sudah pintar ? Mengapa harus bertanya kepadaku ?
  4. Satire : Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
  5. Innuendo : Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.

  • Majas penegasan

  1. Apofasis : Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
  2. Pleonasme : Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan. Contohnya : Saya naik tangga ke atas.
  3. Repetisi : Perulangan kata, frasa, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat. Contohnya : Dia pasti akan datang, dan aku yakin, dia pasti akan datang ke sini.
  4. Pararima : Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
  5. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan. Contohnya : Dengar daku. Dadaku disapu.
  6. Paralelisme : Pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar.
  7. Tautologi : Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
  8. Sigmatisme : Pengulangan bunyi “s” untuk efek tertentu. Contohnya: Kutulis surat ini kala hujan gerimis. (Salah satu kutipan puisi W.S. Rendra)
  9. Antanaklasis : Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
  10. Klimaks : Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting. Contohnya: Baik rakyat kecil, kalangan menengah, maupun kalangan atas berbondong-bondong menuju ke TPS untuk memenuhi hak suara mereka.
  11. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
  12. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya. Contohnya : Dikejar oleh Anna kupu-kupu itu dengan begitu gembira.
  13. Retoris : Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
  14. Elipsis : Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
  15. Koreksio : Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
  16. Polisindenton : Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
  17. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
  18. Interupsi : Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
  19. Eksklamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
  20. Enumerasio : Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
  21. Preterito : Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
  22. Alonim : Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
  23. Kolokasi : Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
  24. Silepsis : Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
  25. Zeugma : Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu. Contohnya : Perlu saya ingatkan, Kakek saya itu peramah dan juga pemarah.
Baca Juga :  Karya Seni Rupa 2 Dimensi Dan Contohnya (Bab 1) Lengkap

  • Majas pertentangan

  1. Paradoks : Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
  2. Oksimoron : Paradoks dalam satu frasa.
  3. Antitesis : Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
  4. Kontradiksi interminus : Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
  5. Anakronisme : Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.

 

Baca Juga :

 

Demikian pejelasan artikel diatas tentang 60 Jenis Dan Pengertian Majas Beserta Contohnya semoga bermanfaat bagi pembaca setia Pensil.Co.Id

Please rate this